Meniti Paradoks AIDS

Ironisnya, salah seorang anggota DPRD Papua adalah seorang dokter, dr John Manangsang, justru berdalih bahwa selain HAM orang dengan HIV/ AIDS harus dihormati, hak orang-orang yang masih belum tertular HIV pun harus dilindungi. Yang menyedihkan, niat pemasangan susuk microchip ini mendapat dukungan dari sebagian gereja di Papua.

Jika sampai raperda ini tetap disetujui DPRD Papua, Indonesia yang tahun depan bakal menjadi tuan rumah Konferensi Internasional Asia Pasifik AIDS (ICAAP) IX di Bali akan amat dipermalukan.

Bentuk-bentuk stigmatisasi terhadap orang dengan HIV/ AIDS dan kriminalisasi terhadap populasi berisiko tinggi (pekerja seks dan pengguna narkoba suntik) sudah terbukti di berbagai negara menghambat penanggulangan AIDS, bahkan meningkatkan penularan HIV secara eksponensial. Begitu pula dengan distorsi informasi bahwa kondom berpori dan mengampanyekan penggunaan kondom bagi mereka yang biasa melakukan hubungan seks tak aman sama dengan melegalkan perzinahan.

Kriminalisasi terhadap populasi risiko tinggi, seperti razia pekerja seks, justru akan menyebabkan mereka bekerja secara sembunyi-sembunyi sehingga sulit dijangkau program penyuluhan dan layanan kesehatan. Menurut Prof Jonathan Mann (almarhum), perintis paduan ilmu kesehatan dan HAM Universitas Harvard dan mantan Direktur Program Global WHO, agar program penanggulangan AIDS di suatu negara berhasil, populasi risiko tinggi maupun orang-orang dengan HIV/AIDS justru harus dirangkul dan ”dimanusiakan”.

Ini senada dengan pernyataan mantan Menteri Kesehatan dr M Adhyatma (almarhum) bahwa program AIDS akan diuntungkan jika makin banyak orang dengan HIV/AIDS berani tampil memberikan kesaksian atau menjadi penyuluh.

Yang mengkhawatirkan justru kecenderungan angka jangkitan HIV/AIDS di Papua maupun Indonesia secara nasional akan terus naik secara terjal jika tidak terjadi perubahan perilaku pada populasi risiko tinggi (tetap melakukan hubungan seks tak aman/tanpa kondom dan pencandu narkoba dengan jarum suntik tak steril).

Menurut dr Nafsiah Mboi MPH, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional, dengan pemodelan matematik epidemi HIV di Papua jika tanpa perubahan perilaku pada populasi risiko tinggi, maka jumlah orang dengan HIV/AIDS akan mencapai 55.197 orang tahun 2010, sedangkan di Indonesia (tanpa Papua) 510.870 orang. Tahun 2015 di Papua akan jadi 77.556 orang dan di Indonesia non-Papua 952.376 orang. Tahun 2020 di Papua akan melonjak lagi jadi 100.391 orang dan di Indonesia non-Papua 1.757.885 orang. Angka Indonesia ini menyalip Thailand yang berhasil dengan kampanye penggunaan kondom.

Selain masih ada resistensi terhadap kampanye penggunaan kondom, tingkat penggunaan kondom di Indonesia sendiri memang amat rendah. Ini adalah ”dosa” BKKBN, yang selama Orde Baru berkuasa memarjinalkan peran kaum pria dalam program KB. Akibatnya, penggunaan kondom di Indonesia cuma sekitar 1 persen. Ini jauh berbeda dengan perilaku pria Jepang yang biasa pakai kondom sehingga waktu AIDS mulai berjangkit di dunia awal tahun 1980-an, jumlah terbanyak yang tertular HIV di Jepang adalah para penderita hemofilia karena darah dari donor belum ditapis dengan uji HIV.

Tiga pilar utama pencegahan penularan HIV lewat seks tak aman yang masih relevan adalah ABC, singkatan abstinence (tak melakukan hubungan seks bagi mereka yang belum menikah/ seks premarital), be faithful (bagi pasangan suami-istri tak melakukan seks ekstramarital), dan condom (bagi pria maupun perempuan yang melakukan hubungan seks tak aman).

Survei perilaku seksual kaum pria di berbagai negara di dunia menunjukkan, hanya sekitar 50 persen dari mereka yang mempraktikkan rumus A dan B, selebihnya pernah atau biasa ”jajan” jasa seks sehingga berisiko tertular HIV dan menulari istri serta anak-anak mereka.Pada hakikatnya, penggunaan kondom adalah bentuk pengurangan dampak buruk. Upaya kesehatan masyarakat ini tak perlu dipertentangkan dengan upaya menjauhi hubungan seks tak aman dan upaya menekan angka pelacuran. Bahkan, dapat menjadi semacam ”segitiga pengaman”. Jika tidak, penanggulangan AIDS di Indonesia hanya akan berjalan di atas titian paradoks yang melelahkan.( Copy kompas Rabu, 17 Desember 2008)


Did you enjoy this post? Why not leave a comment below and continue the conversation, or subscribe to my feed and get articles like this delivered automatically each day to your feed reader.

No comments yet.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

(required)

(required)


Canadian pharmacies canadian prescriptions Travel to South Africa online pharmacy webcamporno basement mold clean up how to become a chiropractor