Infeksi HIV Sering Disertai Tuberkulosis
Jakarta, Kompas – Infeksi HIV yang ditandai penurunan sistem kekebalan tubuh sering disertai berbagai penyakit lain. Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi oportunistik yang paling sering dijumpai pada infeksi HIV. Oleh karena itu, kolaborasi penanganan HIV dan tuberkulosis perlu dilakukan.
Demikian disampaikan dua ahli penyakit dalam dari Kelompok Studi Khusus AIDS Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, dr Zulkifli Amin dan dr Anna Ujainah, dalam seri ketiga Seminar HIV Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo-Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Rabu (15/7), di aula FKUI, Jakarta.
Indonesia merupakan negara ketiga terbanyak penderita tuberkulosis di dunia. Hanya 68 persen dari total jumlah kasus tersebut yang bisa dideteksi, dengan 87 persen di antaranya bisa disembuhkan.
”Tuberkulosis tidak terkontrol di banyak negara. Salah satu penyebabnya adalah epidemi HIV meningkatkan jumlah kasus tuberkulosis. Infeksi HIV dan TB yang bersamaan sering terjadi,” ujar Anna.
Penyebab utama
Tuberkulosis di populasi dengan prevalensi HIV yang tinggi merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di antara orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Kedua penyakit itu menimbulkan stigma dan butuh perawatan jangka panjang. ”Masalah utama penanganan HIV dan tuberkulosis adalah kompetensi sumber daya manusia, kontinuitas persediaan obat antituberkulosis dan antiretroviral, serta kemampuan diagnostik,” kata Zulkifli.
Di Poliklinik Kelompok Studi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo saat ini ada sekitar 4.100 orang yang mengalami infeksi HIV dan 37 persen di antaranya disertai dengan tuberkulosis paru serta 12 persen tuberkulosis luar paru, seperti tuberkulosis otak, usus, dan tulang. ”Tuberkulosis merupakan penyumbang utama kematian pada infeksi HIV,” kata Anna menegaskan.
Jika hampir 50 persen ODHA terkena tuberkulosis, di kalangan penderita tuberkulosis angka kekerapan infeksi HIV juga tinggi, dapat mencapai 10 persen. Oleh karena itu, diperlukan penatalaksanaan yang saling mendukung antara infeksi HIV. ”Tuberkulosis meningkatkan progresivitas HIV, sebaliknya HIV juga bisa meningkatkan progresivitas tuberkulosis,” ujarnya.
Maka dari itu, penting untuk menelusuri kemungkinan terjadi tuberkulosis serta pengobatan yang tepat pada ODHA. Infeksi HIV ataupun tuberkulosis memerlukan kepatuhan menjalani pengobatan. Pengobatan tuberkulosis selama dua minggu sudah bisa menimbulkan perbaikan klinis, seperti demam hilang, nafsu makan bertambah, dan batuk berkurang. (EVY)
Did you enjoy this post? Why not leave a comment below and continue the conversation, or subscribe to my feed and get articles like this delivered automatically each day to your feed reader.
Trackbacks & Pingbacks
Comments
Leave a comment
Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

sangat menarik, terima kasih