<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Relawan Aids Mimika</title>
	<atom:link href="http://relawanaidsmimika.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://relawanaidsmimika.com</link>
	<description>Karena kami Peduli</description>
	<lastBuildDate>Tue, 24 Aug 2010 20:03:47 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Pelatihan dan Outbound Relawan HIV/AIDS PTFI</title>
		<link>http://relawanaidsmimika.com/2010/03/01/pelatihan-dan-outbound-relawan-hivaids-ptfi/</link>
		<comments>http://relawanaidsmimika.com/2010/03/01/pelatihan-dan-outbound-relawan-hivaids-ptfi/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Mar 2010 09:07:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://relawanaidsmimika.com/?p=163</guid>
		<description><![CDATA[Sebanyak 66 relawan dari berbagai departemen di PT Freeport Indonesia (PTFI) pada hari Sabtu dan Minggu (27-28/2) mengikuti pelatihan dan outbound untuk menjadi peer educator di bidang HIV/AIDS di mana selama dua hari tersebut para relawan berlatih dalam meningkatkan pengetahuan tentang HIV/AIDS, menciptakan kemampuan berkomunikasi dan meningkatkan kerjasama tim. Pelatihan tersebut merupakan kerjasama Relawan HIV/AIDS [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Sebanyak 66 relawan dari berbagai departemen di PT Freeport Indonesia (PTFI) pada hari Sabtu dan Minggu (27-28/2) mengikuti pelatihan dan outbound untuk menjadi peer educator di bidang HIV/AIDS di mana selama dua hari tersebut para relawan berlatih dalam meningkatkan pengetahuan tentang HIV/AIDS, menciptakan kemampuan berkomunikasi dan meningkatkan kerjasama tim. Pelatihan tersebut merupakan kerjasama Relawan HIV/AIDS PTFI dan Departemen Public Health &amp; Malaria Control (PHMC).</p>
<p align="justify"><span id="more-163"></span></p>
<p align="justify">Pelatihan dibuka oleh Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) Dr. Nafsiah Mboi SpA yang sekaligus memberikan arahan kepada para relawan. Hadir dalam acara pembukaan tersebut Director – EVP &amp; CAO Sinta Sirait, Vice President bidang Social Outreach and Development PTFI Arief Latif, Vice President bidang Industrial Relations PTFI Johannes Hersubeno, Ketua KPA Provinsi Papua Constant Karma, perwakilan KPA Kabupaten Mimika, Kepala Dinas Sosial Kabupaten Mimika, perwakilan dari LSM Melati Peduli, El Gratia, Yayasan Peduli AIDS, perwakilan Gereja, Perwakilan Kepolisian dan Tentara Nasional Indonesia serta perwakilan Indonesian Business Coalition on AIDS (IBCA).</p>
<p align="justify">Dalam sambutannya, Sinta mengatakan bahwa HIV/AIDS merupakan masalah bersama sehingga diperlukan upaya bersama untuk mencegah penyebaran virus tersebut dan mengurangi jumlah orang-orang yang terinfeksi. Sinta berharap agar masing-masing pihak dapat berperan aktif sehingga tercipta sinergi besar yang dapat menyadarkan kita semua terhadap bahaya penyebaran HIV/AIDS dan menghindari perilaku yang beresiko terhadap penularan virus mematikan tersebut.</p>
<p align="justify">Sementara itu, Dr. Nafsiah Mboi SpA yang berbicara di depan para relawan dengan sangat interaktif menyampaikan bahwa tugas relawan tidak mudah. &#8220;Relawan harus berusaha untuk menyadarkan dan merubah perilaku seseorang agar tidak sampai terinfeksi virus HIV, kalau sudah terinfeksi, maka relawan harus berupaya agar yang terjangkit tidak sampai menjadi positif AIDS,&#8221; katanya. Dr. Nafsiah mengingatkan bahwa kita semua berkewajiban merangkul mereka yang terinfeksi, karena menyelamatkan nyawa orang itu menjadi tanggungjawab bersama, terutama para relawan. &#8220;Virus itu tidak boleh memisahkan kita,&#8221; katanya.</p>
<p align="justify">Dr. Nafsiah mengaku sangat bahagia bisa berada di wilayah kerja PTFI dan berbicara langsung kepada para relawan karena menurutnya apa yang dilakukan PTFI melalui program kesukarelawanan tersebut adalah hal yang patut dihargai dan dijadikan contoh bagi yang lain. Seusai membuka resmi pelatihan yang berlangsung di kampus Yayasan Pendidikan Jayawijaya Kuala Kencana itu, Dr. Nafsiah Mboi SpA mengadakan dialog dengan para perwakilan pemerintah, KPA Provinsi dan Kabupaten, LSM, Kepolisian dan TNI, gereja, wartawan, tenaga medis, relawan dan manajemen PTFI.</p>
<p align="justify">Di salah satu bagian dialognya, Dr. Nafsiah memberikan penghargaan atas upaya-upaya yang dilakukan semua pihak di Kabupaten Mimika dalam meningkatkan kesadaran tentang bahaya HIV/AIDS dan upaya pelayanan kesehatan. Menurutnya, peningkatan jumlah orang yang terinfeksi HIV di Kabupaten Mimika harus dilihat dari sisi positifnya, yaitu berarti berhasilnya upaya menyadarkan masyarakat untuk melakukan tes HIV, serta baiknya pelayanan yang diberikan kepada masyarakat dan mereka yang terinfeksi. Hal ini juga ditegaskan Dr. Nafsiah ketika berdialog dengan Kelompok Kerja HIV/AIDS Rumah Sakit Mitra Masyarakat di Timika.</p>
<p align="justify">Pada hari kedua, para relawan melakukan outreach ke lokalisasi Kilo-10, Timika untuk belajar bagaimana berkomunikasi dengan mereka yang berisiko tinggi terhadap HIV tentang bahaya HIV/AIDS.</p>
<p align="justify">Pelatihan tersebut merupakan yang keempat kalinya dilakukan di lingkungan kerja PTFI. Pada tiga pelatihan sebelumnya yang dimulai tahun 2007, sudah terdapat 86 relawan yang berasal dari berbagai departemen, baik yang ada di dataran tinggi maupun di dataran rendah.</p>
<p>sumber: e-Berita kita PTFI</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://relawanaidsmimika.com/2010/03/01/pelatihan-dan-outbound-relawan-hivaids-ptfi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PTFI Gelar Peringatan Hari AIDS Sedunia di Timika</title>
		<link>http://relawanaidsmimika.com/2010/01/11/ptfi-gelar-peringatan-hari-aids-sedunia-di-timika/</link>
		<comments>http://relawanaidsmimika.com/2010/01/11/ptfi-gelar-peringatan-hari-aids-sedunia-di-timika/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 11 Jan 2010 11:38:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://relawanaidsmimika.com/?p=158</guid>
		<description><![CDATA[PT Freeport Indonesia (PTFI) melalui program Freeport Peduli, Departemen Public Health &#038; Malaria Control (PHMC) dan Relawan AIDS bekerja sama dengan Lembaga Peduli Perempuan El-Gracia menggelar peringatan Hari AIDS Sedunia (HAS) 2009 di Timika, Minggu (6/12).

Peringatan Hari AIDS Sedunia ini ditandai dengan penyuluhan HIV/AIDS melalui pentas seni budaya Papua dan lomba melukis bagi komunitas pemuda [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">PT Freeport Indonesia (PTFI) melalui program Freeport Peduli, Departemen Public Health &#038; Malaria Control (PHMC) dan Relawan AIDS bekerja sama dengan Lembaga Peduli Perempuan El-Gracia menggelar peringatan Hari AIDS Sedunia (HAS) 2009 di Timika, Minggu (6/12).<br />
<span id="more-158"></span></p>
<p align="justify">Peringatan Hari AIDS Sedunia ini ditandai dengan penyuluhan HIV/AIDS melalui pentas seni budaya Papua dan lomba melukis bagi komunitas pemuda di Mimika serta road show, penyuluhan HIV/AIDS dan bakti sosial kepada warga di Distrik Mimika Timur yang diikuti oleh lebih dari 450 peserta yang berasal dari relawan PTFI, ibu-ibu PWKK, KPAD Mimika, Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Mimika, LSM HIV/AIDS di Timika, kelompok-kelompok pemuda masyarakat setempat, pemerintah daerah, serta klub motor. Kegiatan peringatan HAS 2009 dilakukan untuk menggugah kesadaran masyarakat Mimika tentang pentingnya upaya pencegahan HIV AIDS.</p>
<p align="justify">Acara dibuka dengan sambutan dari Wakil Bupati Mimika Abdul Muis mewakili Bupati Mimika serta Vice President HR Service &#038; IR PTFI Johannes Hersubeno mewakili manajemen PTFI. Dalam sambutannya Wakil Bupati Mimika Abdul Muis mengatakan tingkat prevalensi HIV/AIDS di Papua dan Papua Barat mencapai 2,4% atau lebih tinggi dari tingkat nasional yang kurang dari 1%. &#8220;Ini menandakan masalah HIV/AIDS di Papua khususnya Mimika butuh penanganan yang sangat serius dan menjadi tanggung jawab seluruh komponen masyarakat,&#8221; jelas Muis. Untuk itu beliau tidak lupa mengucapkan selamat kepada PTFI atas upaya memerangi HIV/AIDS tidak hanya dalam tempat kerja tetapi juga di Timika serta memberikan apresiasi kepada para relawan PTFI dan Yayasan El-Gracia atas inisiatifnya untuk memperingati HAS 2009 dengan kegiatan yang sangat positif seperti lomba melukis, pertunjukan seni dan tarian Papua serta mengadakan pawai kendaraan dan penyuluhan HIV/AIDS ke Pomako dalam rangka bakti sosial sebagai cara untuk mempromosikan pentingnya mengetahui HIV/AIDS dan pencegahannya. </p>
<p align="justify">Harapan serupa juga disampaikan Hersubeno, &#8220;Kegiatan ini dalam rangka mendorong pemerintah, pihak swasta dan semua komponen masyarakat agar serius menanggulangi masalah HIV/AIDS,&#8221; ujarnya. Dalam kesempatan yang sama Hersubeno mengatakan PTFI melalui Departemen PHMC terus memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat melalui kerjasama dengan Lembaga Pengembangan Masyarakat Amungme dan Kamoro (LPMAK) serta Dinas Kesehatan Mimika. Tidak itu saja, PTFI juga telah melatih juru kampanye yang melibatkan tidak saja karyawan tapi juga masyarakat.</p>
<p align="justify">Usai pembukaan peringatan HAS 2009 bertempat di halaman Swalayan Gelael Timika, rombongan relawan PTFI yang berjumlah 400 orang dilepas oleh Abdul Muis dan Hersubeno menempuh sekitar 70 kilometer dari Timika dengan melakukan konvoi kendaraan bermotor. Para relawan berkesempatan memberikan penyuluhan masalah HIV/AIDS dan diakhiri dengan bakti sosial berupa pembagian bingkisan sembako kepada 350 kepala keluarga di Distrik Mimika Timur. </p>
<p align="justify">Acara ini juga mendapatkan liputan positif di beberapa media lokal dan nasional.( beritakita)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://relawanaidsmimika.com/2010/01/11/ptfi-gelar-peringatan-hari-aids-sedunia-di-timika/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PMS meningkat penggunaan kondom menurun</title>
		<link>http://relawanaidsmimika.com/2009/10/18/pms-meningkat-penggunaan-kondom-menurun/</link>
		<comments>http://relawanaidsmimika.com/2009/10/18/pms-meningkat-penggunaan-kondom-menurun/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 18 Oct 2009 08:48:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://relawanaidsmimika.com/?p=95</guid>
		<description><![CDATA[Sampai dengan Juni 2009 Kabupaten Mimika  mencatat jumlah penderita HIV/Aids sebanyak 2005  orang .Demikian disampaikan oleh Koordinator secretariat  harian KPA kabupaten Mimika  bapak Reynold Ubra pada acara  pertemuan bersama Relawan HIV/AIDS PT Freeport  bersama  melati Suport group dan Public Health Malaria Control di kantor KPA hari Jum’at  [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Sampai dengan Juni 2009 Kabupaten Mimika  mencatat jumlah penderita HIV/Aids sebanyak 2005  orang .Demikian disampaikan oleh Koordinator secretariat  harian KPA kabupaten Mimika  bapak Reynold Ubra pada acara  pertemuan bersama Relawan HIV/AIDS PT Freeport  bersama  melati Suport group dan Public Health Malaria Control di kantor KPA hari Jum’at  16 October 2009. Dalam Keterangan singkatnya  beliau mengatakan selama kurang lebih tiga bulan terakhir jumlah PMS ( penyakit menular seksual ) di lokalisasi terus menigkat dan prilaku kecendrungan tidak memakai  kondom mulai lagi meningkat   untuk itu dalam kesempatan ini kita diminta  bersama-sama berunding untuk memikirkan langkah-langkah antisipatif agar bisa menekan laju penularan virus HIV/AIDS didaerah kita.<br />
<span id="more-95"></span></p>
<p align="justify">Dalam Kesempatan yang sama ketua Tim Relawan HIV/AIDS Kabupaten Mimika Widyanarko bersama wakilnya Pak Wiyarto menjelaskan tentang rencana kerja Relawan HIV/AIDS   menjelang WAD 2009  adalah dengan mengadakan  pembagian Sembako murah kepada masyarakat pomako yang didukung oleh Freeport peduli dan perusahan mitra Freeport lainya.</p>
<p align="justify">Sementara itu, menurut  Tim STI yang bertugas di lokalisasi Selama ini, kendala pengobatan terhadap pekerja seks yang tertlar PMS dan HIV/Aids diantaranya adalah tidak mau minum obat dengan teratur termasuk tidak menggunakan kondom jika berhubungan seks dengan pacarnya. </p>
<p><b>Rekomendasi pertemuan</b></p>
<p align="justify">Setelah mengetahui bahaya besar akibat PMS/HIV/AIDS  lalu apa yang bisa dilakukan? Tim  mengusulkan beberapa alternative kegiatan yang dapat dilakukan diantaranya adalah melakukan advokasi kepada PSK  dan kerjasama dengan pemangku kepentingan seperti Depkes dan jajarannya, Pemda dan jajarannya, , NGO, Kelompok ODHA, Organisasi Agama serta Organisasi perempuan serta pihak parawisata dan keamanan. Selain itu, bisa pula berkontribusi dengan melakukan pelatihan – pelatihan mengenai HIV/Aids kepada konselor, kader masyarakat/relawan serta petugas kesehatan dan LSM serta memberikan tindakan disiplin berupa denda administatif kepada pekerja Seks dan maminya yang terbukti tidak patuh terhadap penggunan kondom dan minum obat secara teratur. </p>
<p align="justify">Dr Andri Wiguna yang juga hadir pada pertemuan ini mengatakan bahwa pertemuan seperti ini sebaiknya terjadwal secara rutin agar tukar informasi antara KPA dan pihak terkait tentang strategi dan program penanggulangan bisa di sharing ke berbagai pihak  sehingga kita dapat bersama-sama menekan laju perkembangan HIV/AIDS di kab Mimika.</p>
<p align="justify">Diakhir pertemuan Pak Reynold  Ubra tidak dapat menyembunyikan kegembiraannya berkat antusiasme dari semua peserta yang hadir  dalam diskusi serta  dengan sungguh-sungguh ingin mengambil bagian dalam program penanggulangan HIV/AIDS dimasa yang akan datang meskipun diketahui begitu banyak kendala yang akan dihadapi.( BK)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://relawanaidsmimika.com/2009/10/18/pms-meningkat-penggunaan-kondom-menurun/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Proposal</title>
		<link>http://relawanaidsmimika.com/2009/09/25/proposal/</link>
		<comments>http://relawanaidsmimika.com/2009/09/25/proposal/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Sep 2009 08:35:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Proposal Kami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://relawanaidsmimika.com/?p=94</guid>
		<description><![CDATA[Proposal WAD 2009
]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Proposal WAD 2009</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://relawanaidsmimika.com/2009/09/25/proposal/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Hari AIDS Sedunia, Semua Dapat Berperan Tanggulangi HIV</title>
		<link>http://relawanaidsmimika.com/2009/09/25/hari-aids-sedunia-semua-dapat-berperan-tanggulangi-hiv/</link>
		<comments>http://relawanaidsmimika.com/2009/09/25/hari-aids-sedunia-semua-dapat-berperan-tanggulangi-hiv/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Sep 2009 07:20:52 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://relawanaidsmimika.com/?p=78</guid>
		<description><![CDATA[1 DESEMBER:  Beberapa negara di Afrika dan Asia menunjukkan perlambatan laju penyebaran HIV/ AIDS. Tentunya ini berita yang menggembirakan. Namun di Indonesia, jumlah orang yang hidup dengan HIV dan AIDS (ODHA) cenderung meningkat. 
Semua kelompok usia di Tanah Air, termasuk anak-anak, termasuk dalam ODHA. Data terbaru Ditjen Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Depkes [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">1 DESEMBER:  Beberapa negara di Afrika dan Asia menunjukkan perlambatan laju penyebaran HIV/ AIDS. Tentunya ini berita yang menggembirakan. Namun di Indonesia, jumlah orang yang hidup dengan HIV dan AIDS (ODHA) cenderung meningkat. </p>
<p align="justify">Semua kelompok usia di Tanah Air, termasuk anak-anak, termasuk dalam ODHA. Data terbaru Ditjen Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Depkes menyebutkan, dalam waktu 3 bulan antara Juli-September 2007 ada tambahan 786 kasus HIV/ AIDS. Rinciannya, 91 orang terkena HIV, dan 695 kasus AIDS.<br />
<span id="more-78"></span></p>
<p align="justify">Total penderita yang terpapar HIV/ AIDS di Indonesia berjumlah 16.288 orang, 500 di antaranya berusia 0-19 tahun. Sedangkan total penderita yang meninggal mencapai 2.287 orang. Provinsi dengan jumlah kasus terbanyak adalah Jakarta dan Papua. Demikian keterangan tertulis dari World Vision Indonesia, Jumat (30/11/2007).</p>
<p align="justify">Dengan diperingatinya Hari AIDS sedunia pada 1 Desember 2007 ini, berarti sudah 19 tahun hari itu diperingati. Diharapkan, ada kesadaran baru dan komitmen bersama untuk menekan laju penyebaran HIV dan AIDS.</p>
<p align="justify">&#8220;Kita perlu kerjasama satu organisasi dengan organisasi lainnya. Ini harus terus dilakukan dan bukan hanya saat peringatan Hari AIDS sedunia saja,&#8221; ujar Charles Sinaga dari World Vision.</p>
<p align="justify">Sejumlah LSM peduli AIDS mengeluhkan sulitnya mengajak para pekerja seks untuk menghindari perilaku yang rentan terhadap HIV/ AIDS. Untuk mengatasinya, pengelola spa, panti pijat, dan salon diminta untuk memberikan penyuluhan kepada mereka.</p>
<p align="justify">Semua dapat berperan dalam menanggulangi HIV/AIDS. Karena kepedulian sekecil apapun dapat menyelamatkan nyawa orang yang terkana HIV/AIDS. Lewat hubungan yang harmonis dan komunikasi yang intensif dan terbuka maka akan mampu meningkatkan daya juang bersama menekan laju penularan HIV dengan menyingkirkan stigma dan diskriminasi.  (dc/pd) (KESRA)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://relawanaidsmimika.com/2009/09/25/hari-aids-sedunia-semua-dapat-berperan-tanggulangi-hiv/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Infeksi HIV Sering Disertai Tuberkulosis</title>
		<link>http://relawanaidsmimika.com/2009/07/22/infeksi-hiv-sering-disertai-tuberkulosis/</link>
		<comments>http://relawanaidsmimika.com/2009/07/22/infeksi-hiv-sering-disertai-tuberkulosis/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Jul 2009 17:34:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://relawanaidsmimika.com/?p=65</guid>
		<description><![CDATA[Jakarta, Kompas &#8211; Infeksi HIV yang ditandai penurunan sistem kekebalan tubuh sering disertai berbagai penyakit lain. Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi oportunistik yang paling sering dijumpai pada infeksi HIV. Oleh karena itu, kolaborasi penanganan HIV dan tuberkulosis perlu dilakukan.
Demikian disampaikan dua ahli penyakit dalam dari Kelompok Studi Khusus AIDS Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, dr Zulkifli Amin [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Jakarta, Kompas &#8211; Infeksi HIV yang ditandai penurunan sistem kekebalan tubuh sering disertai berbagai penyakit lain. Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi oportunistik yang paling sering dijumpai pada infeksi HIV. Oleh karena itu, kolaborasi penanganan HIV dan tuberkulosis perlu dilakukan.</p>
<p align="justify">Demikian disampaikan dua ahli penyakit dalam dari Kelompok Studi Khusus AIDS Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, dr Zulkifli Amin dan dr Anna Ujainah, dalam seri ketiga Seminar HIV Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo-Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, Rabu (15/7), di aula FKUI, Jakarta.<br />
<span id="more-65"></span></p>
<p align="justify">Indonesia merupakan negara ketiga terbanyak penderita tuberkulosis di dunia. Hanya 68 persen dari total jumlah kasus tersebut yang bisa dideteksi, dengan 87 persen di antaranya bisa disembuhkan.<br />
”Tuberkulosis tidak terkontrol di banyak negara. Salah satu penyebabnya adalah epidemi HIV meningkatkan jumlah kasus tuberkulosis. Infeksi HIV dan TB yang bersamaan sering terjadi,” ujar Anna.</p>
<p><b>Penyebab utama</b></p>
<p align="justify">Tuberkulosis di populasi dengan prevalensi HIV yang tinggi merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas di antara orang dengan HIV/AIDS (ODHA). Kedua penyakit itu menimbulkan stigma dan butuh perawatan jangka panjang. ”Masalah utama penanganan HIV dan tuberkulosis adalah kompetensi sumber daya manusia, kontinuitas persediaan obat antituberkulosis dan antiretroviral, serta kemampuan diagnostik,” kata Zulkifli.</p>
<p align="justify">Di Poliklinik Kelompok Studi Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo saat ini ada sekitar 4.100 orang yang mengalami infeksi HIV dan 37 persen di antaranya disertai dengan tuberkulosis paru serta 12 persen tuberkulosis luar paru, seperti tuberkulosis otak, usus, dan tulang. ”Tuberkulosis merupakan penyumbang utama kematian pada infeksi HIV,” kata Anna menegaskan.</p>
<p align="justify">Jika hampir 50 persen ODHA terkena tuberkulosis, di kalangan penderita tuberkulosis angka kekerapan infeksi HIV juga tinggi, dapat mencapai 10 persen. Oleh karena itu, diperlukan penatalaksanaan yang saling mendukung antara infeksi HIV. ”Tuberkulosis meningkatkan progresivitas HIV, sebaliknya HIV juga bisa meningkatkan progresivitas tuberkulosis,” ujarnya.</p>
<p align="justify">Maka dari itu, penting untuk menelusuri kemungkinan terjadi tuberkulosis serta pengobatan yang tepat pada ODHA. Infeksi HIV ataupun tuberkulosis memerlukan kepatuhan menjalani pengobatan. Pengobatan tuberkulosis selama dua minggu sudah bisa menimbulkan perbaikan klinis, seperti demam hilang, nafsu makan bertambah, dan batuk berkurang. (EVY)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://relawanaidsmimika.com/2009/07/22/infeksi-hiv-sering-disertai-tuberkulosis/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>&#8220;MEREKA TETAP PEDULI”</title>
		<link>http://relawanaidsmimika.com/2009/06/30/mereka-tetap-peduli%e2%80%9d/</link>
		<comments>http://relawanaidsmimika.com/2009/06/30/mereka-tetap-peduli%e2%80%9d/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Jun 2009 10:20:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost:8080/relawan/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[Upaya tanpa kenal lelah ini mendapatkan berbagai pujian baik secara lokal maupun nasional. Sabtu 7 Februari 2009 lalu, melakukan Pertemuan guna menetapkan langkah-langkah proaktip kedepan mulai dari lingkungan kerja masing-masing dan diwaktu-waktu tertentu bergerak keluar khususnya ke Timika.  Hal ini dilakukan sebab di Timika terdapat puluhan bar/pub dan panti-pijat yang mempekerjakan  para karyawan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Upaya tanpa kenal lelah ini mendapatkan berbagai pujian baik secara lokal maupun nasional. Sabtu 7 Februari 2009 lalu, melakukan Pertemuan guna menetapkan langkah-langkah proaktip kedepan mulai dari lingkungan kerja masing-masing dan diwaktu-waktu tertentu bergerak keluar khususnya ke Timika.  Hal ini dilakukan sebab di Timika terdapat puluhan bar/pub dan panti-pijat yang mempekerjakan  para karyawan umumnya wanita muda tanpa dibekali pengetahuan yang memadai mengenai bahaya HIV/AIDS.   </p>
<p align="justify">Memang miris juga, namun dengan suatu tugas mulia untuk ikut menyelamatkan generasi kita dari keterpurukan dan kehancuran yang disebabkan oleh  virus mematikan diatas.  Dengan menggunakan sepeda motorpun tidak menghalangi mayoritas Relawan yang hadir dalam pertemuan ini walaupun diterpa kebisingan dari berbagai kendaraan bermotor, belum lagi  sengatan panas matahari di Timika.  Tempat pertemuan dilakukan di Hotel Anggrek (melati) tanpa dipungut biaya berkat loby teman-teman.<br />
<span id="more-44"></span></p>
<p align="justify">Para Relawan secara kasat mata bisa melihat kenyataan yang ada di Timika bahwa ada banyak rumah ibadah, maka tidak pelak lagi, pembangunan iman seseorang perlu disertai pembangunan tabiat dan moral hingga semakin banyak pasangan yang setia kepada pasangannya masing-masing.  Selain itu, suksesnya para Relawan HIV/AIDS ditentukan oleh Peran Aktif Anggota,  Program Terarah, dan yang tidak kalah pentingnya adalah Dukungan semua Pihak selama ini termasuk Managemet PTFI. Apabila ini bisa ditingkatkan untuk  direalisir, para Relawan percaya bahwa program kerja nya bisa membuahkan hasil yang lebih positip. </p>
<p align="justify">Winny Mambu asal daerah Nyiur Melambai Sulut, salah seorang Relawan HIV/AIDS yang akrab disapa Win, menegasakan bahwa yang diperlukan saat ini hanyalah komitmen terpadu  dari semua pihak terkait dalam menangani  masalah HIV AIDS  ermasuk dan tidak kalah sulitnya adalah  bagaimana bisa menghilangkan stigma buruk terhadap penderita HIV/AIDS di tengah lingkungan masing-masing termasuk lingkungan kerja tentunya. </p>
<p align="justify">Menurut Pak Jairun Hutahaean, yang juga merupakan salah satu relawan HIV/AIDS asal Tapanuli, dengan kita melihat bahwa penyebab utama penularan HIV/AIDS  adalah melalui hubngan seksual ( 98%)  maka yang perlu dilakukan adalah dengan  meningkatkan ketaqwan  kita sebagai umat  beriman, apapun agama yang kita anut, agar beragamalah dengan baik. Beliau menambahkan bahwa banyak perselingkuhan diawali karena pihak wanita tidak tahan lagi didera KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga). Itulah sebabnya agama bisa merem perangai buruk seseorang, namun diatas semua ini, kita harus mulai dari diri kita dulu.  Semua  peserta mengamini pendapat ini. Kedepan, tim Relawan berupaya untuk lebih proaktif melakukan penyuluhan mengenai HIV AIDS dengan langsung memberikan pembekalan ke tempat yang berisiko tinggi seperti Lokasi PSK, Bar/Pub, Panti Pijat, dll. </p>
<p align="justify">Sudah barang tentu, yang bertugas harus berupa tim sehingga bisa dijamin tidak  akan terpengaruh dengan target audience.  Pelaku tunggal (perorangan) memang dilarang oleh tim Relawan, siapa tahu iman seseorang belum bisa diandalkan. Bulan Mei nanti, akan ada kegiatan yang sifatnya Nasional yaitu Renungan Aids Nusantara, yang diperkirakan akan dilaksanakan di kota Timika/Kuala Kencana oleh PHDC bekerjasama dengan KPA maupun pihak Relawan. </p>
<p align="justify">Dipenghujung pertemuan, semua relawan HIV/AIDS PTFI  sepakat untuk  melakukan tindakan nyata di tempat kerja masing-masing  termasuk mengajak teman agar berprilaku positip, setia terhadap suami/istri.  Itulah sekelumit mengenai kegiatan tim Relawan HIV AIDS PTFI yang walaupun tidak begitu populer dan terkenal, namun mereka memikul tanggung jawab mulia untuk menyelamatkan anak bangsa dari keterpurukan wabah HIV/AIDS didareah Mimika ini. </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://relawanaidsmimika.com/2009/06/30/mereka-tetap-peduli%e2%80%9d/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bikers Timika bersama Relawan Peduli HIV/AIDS.</title>
		<link>http://relawanaidsmimika.com/2009/06/30/bikers-timika-bersama-relawan-peduli-hivaids/</link>
		<comments>http://relawanaidsmimika.com/2009/06/30/bikers-timika-bersama-relawan-peduli-hivaids/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Jun 2009 10:20:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kegiatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost:8080/relawan/?p=42</guid>
		<description><![CDATA[Meskipun cuaca kurang mendukung karena sedikit gerimis namun berkat kerja sama dan mempunyai hobi yang sama  Bikers Timika tetap melanjutkan acaranya dengan bersama-sama  Daeng Lucky menuju kota indah Kuala Kencana  
Sebelum memulai acara touring ke Kuala Kencana  Pak  Benny yang dikenal dengan  nama  Bung Kondom memberikan sedikit informasi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Meskipun cuaca kurang mendukung karena sedikit gerimis namun berkat kerja sama dan mempunyai hobi yang sama  Bikers Timika tetap melanjutkan acaranya dengan bersama-sama  Daeng Lucky menuju kota indah Kuala Kencana  </p>
<p align="justify">Sebelum memulai acara touring ke Kuala Kencana  Pak  Benny yang dikenal dengan  nama  Bung Kondom memberikan sedikit informasi  tentang situasi penyebaran HIV/AIDS di kab Mimika  yang sangat memprihatinkan, untuk itu katanya  keterlibatan dan kepedulian semua pihak  termasuk Bikers Timika dan Relawan HIV/AIDS Mimika adalah salah satu cara untuk menekan laju penularan Virus HIV/AIDS dikabupaten ini.<br />
<span id="more-42"></span></p>
<p align="justify">Selama perjalanan touring ke Kuala Kencana serta Timika  dan sekitarnya Bikers Timika  bekerja sama dengan Relawan HIV/AIDS kab.Mimika membagikan  brosur  yang berisikan informasi tentang HIV/AIDS kepada masyarakat yang ada di sekitar perjalanan, dan brosur  yang   berhasil disebarkan  sebanyak 400 lembar. </p>
<p align="justify">Mewakili  Bikers Timika Club bapak  Wiyarto kepada redaksi mengatakan meskipun ditengah kesibukan masing-masing  serta krisis BBM dan krisis global kita harus tetap membuat  hal yang positif  melalui hobi kita ,  dan bersama-sama melalui hobi tersebut kita memerangi HIV/AIDS yang merajalela saat ini. ( red ) </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://relawanaidsmimika.com/2009/06/30/bikers-timika-bersama-relawan-peduli-hivaids/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Meniti Paradoks AIDS</title>
		<link>http://relawanaidsmimika.com/2009/06/30/meniti-paradoks-aids/</link>
		<comments>http://relawanaidsmimika.com/2009/06/30/meniti-paradoks-aids/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Jun 2009 10:18:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost:8080/relawan/?p=40</guid>
		<description><![CDATA[Ironisnya, salah seorang anggota DPRD Papua adalah seorang dokter, dr John Manangsang, justru berdalih bahwa selain HAM orang dengan HIV/ AIDS harus dihormati, hak orang-orang yang masih belum tertular HIV pun harus dilindungi. Yang menyedihkan, niat pemasangan susuk microchip ini mendapat dukungan dari sebagian gereja di Papua.
Jika sampai raperda ini tetap disetujui DPRD Papua, Indonesia [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Ironisnya, salah seorang anggota DPRD Papua adalah seorang dokter, dr John Manangsang, justru berdalih bahwa selain HAM orang dengan HIV/ AIDS harus dihormati, hak orang-orang yang masih belum tertular HIV pun harus dilindungi. Yang menyedihkan, niat pemasangan susuk microchip ini mendapat dukungan dari sebagian gereja di Papua.</p>
<p align="justify">Jika sampai raperda ini tetap disetujui DPRD Papua, Indonesia yang tahun depan bakal menjadi tuan rumah Konferensi Internasional Asia Pasifik AIDS (ICAAP) IX di Bali akan amat dipermalukan.<br />
 <span id="more-40"></span></p>
<p align="justify">Bentuk-bentuk stigmatisasi terhadap orang dengan HIV/ AIDS dan kriminalisasi terhadap populasi berisiko tinggi (pekerja seks dan pengguna narkoba suntik) sudah terbukti di berbagai negara menghambat penanggulangan AIDS, bahkan meningkatkan penularan HIV secara eksponensial. Begitu pula dengan distorsi informasi bahwa kondom berpori dan mengampanyekan penggunaan kondom bagi mereka yang biasa melakukan hubungan seks tak aman sama dengan melegalkan perzinahan.</p>
<p align="justify">Kriminalisasi terhadap populasi risiko tinggi, seperti razia pekerja seks, justru akan menyebabkan mereka bekerja secara sembunyi-sembunyi sehingga sulit dijangkau program penyuluhan dan layanan kesehatan. Menurut Prof Jonathan Mann (almarhum), perintis paduan ilmu kesehatan dan HAM Universitas Harvard dan mantan Direktur Program Global WHO, agar program penanggulangan AIDS di suatu negara berhasil, populasi risiko tinggi maupun orang-orang dengan HIV/AIDS justru harus dirangkul dan ”dimanusiakan”.</p>
<p align="justify">Ini senada dengan pernyataan mantan Menteri Kesehatan dr M Adhyatma (almarhum) bahwa program AIDS akan diuntungkan jika makin banyak orang dengan HIV/AIDS berani tampil memberikan kesaksian atau menjadi penyuluh.</p>
<p align="justify">Yang mengkhawatirkan justru kecenderungan angka jangkitan HIV/AIDS di Papua maupun Indonesia secara nasional akan terus naik secara terjal jika tidak terjadi perubahan perilaku pada populasi risiko tinggi (tetap melakukan hubungan seks tak aman/tanpa kondom dan pencandu narkoba dengan jarum suntik tak steril).</p>
<p align="justify">Menurut dr Nafsiah Mboi MPH, Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS Nasional, dengan pemodelan matematik epidemi HIV di Papua jika tanpa perubahan perilaku pada populasi risiko tinggi, maka jumlah orang dengan HIV/AIDS akan mencapai 55.197 orang tahun 2010, sedangkan di Indonesia (tanpa Papua) 510.870 orang. Tahun 2015 di Papua akan jadi 77.556 orang dan di Indonesia non-Papua 952.376 orang. Tahun 2020 di Papua akan melonjak lagi jadi 100.391 orang dan di Indonesia non-Papua 1.757.885 orang. Angka Indonesia ini menyalip Thailand yang berhasil dengan kampanye penggunaan kondom.</p>
<p align="justify">Selain masih ada resistensi terhadap kampanye penggunaan kondom, tingkat penggunaan kondom di Indonesia sendiri memang amat rendah. Ini adalah ”dosa” BKKBN, yang selama Orde Baru berkuasa memarjinalkan peran kaum pria dalam program KB. Akibatnya, penggunaan kondom di Indonesia cuma sekitar 1 persen. Ini jauh berbeda dengan perilaku pria Jepang yang biasa pakai kondom sehingga waktu AIDS mulai berjangkit di dunia awal tahun 1980-an, jumlah terbanyak yang tertular HIV di Jepang adalah para penderita hemofilia karena darah dari donor belum ditapis dengan uji HIV.</p>
<p align="justify">Tiga pilar utama pencegahan penularan HIV lewat seks tak aman yang masih relevan adalah ABC, singkatan abstinence (tak melakukan hubungan seks bagi mereka yang belum menikah/ seks premarital), be faithful (bagi pasangan suami-istri tak melakukan seks ekstramarital), dan condom (bagi pria maupun perempuan yang melakukan hubungan seks tak aman).</p>
<p align="justify">Survei perilaku seksual kaum pria di berbagai negara di dunia menunjukkan, hanya sekitar 50 persen dari mereka yang mempraktikkan rumus A dan B, selebihnya pernah atau biasa ”jajan” jasa seks sehingga berisiko tertular HIV dan menulari istri serta anak-anak mereka.Pada hakikatnya, penggunaan kondom adalah bentuk pengurangan dampak buruk. Upaya kesehatan masyarakat ini tak perlu dipertentangkan dengan upaya menjauhi hubungan seks tak aman dan upaya menekan angka pelacuran. Bahkan, dapat menjadi semacam ”segitiga pengaman”. Jika tidak, penanggulangan AIDS di Indonesia hanya akan berjalan di atas titian paradoks yang melelahkan.( Copy kompas Rabu, 17 Desember 2008) </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://relawanaidsmimika.com/2009/06/30/meniti-paradoks-aids/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen Peduli HIV/AIDS di Timika</title>
		<link>http://relawanaidsmimika.com/2009/06/30/ari-sihasale-dan-nia-zulkarnaen-peduli-hivaids-di-timika/</link>
		<comments>http://relawanaidsmimika.com/2009/06/30/ari-sihasale-dan-nia-zulkarnaen-peduli-hivaids-di-timika/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 30 Jun 2009 10:17:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Berita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://localhost:8080/relawan/?p=38</guid>
		<description><![CDATA[Yang menghebohkan, seminar yang diadakan di Aula Yayasan Advent Timika tersebut dihadiri pasangan artis ibukota, Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen, yang sangat dikenal publik Timika, sebab keduanya melangsungkan pesta pernikahan di Hotel Sheraton Timika beberapa tahun lalu.Tampil sebagai nara sumber seminar kemarin adalah dr. Leo Pardede dan dr. Niken Widyastuti dari Departemen Public Health and [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="justify">Yang menghebohkan, seminar yang diadakan di Aula Yayasan Advent Timika tersebut dihadiri pasangan artis ibukota, Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen, yang sangat dikenal publik Timika, sebab keduanya melangsungkan pesta pernikahan di Hotel Sheraton Timika beberapa tahun lalu.Tampil sebagai nara sumber seminar kemarin adalah dr. Leo Pardede dan dr. Niken Widyastuti dari Departemen Public Health and Disease Control (PHDC) PTFI. PHDC sebelumnya adalah Public Health and Malaria Control (PHMC). </p>
<p align="justify">Kehadiran Sutradara Film Denias, Ari Sihasale dan istrinya, Nia Zulkarnaen membuat suasana seminar semakin meriah.Meskipun peserta seminar didominasi siswa-siwa SMP, sedangkan siswa/siswa SMA dan SMK hanya beberapa yang terlihat hadir, namun suasana seminar tetap seru. Selain pelajar, hadir juga undangan dari Kejaksaan Negeri Timika, Lanal Timika maupun Lanud Timika.Beragam pertanyaan dilontar­kan siswa-siswa SMP, utamanya mengenai alat reproduksi hingga cara penularan HIV/AIDS.<br />
<span id="more-38"></span></p>
<p align="justify">Dokter Niken memaparkan HIV/AIDS bisa ditularkan melalui hubungan seks bebas, penggu­naan jarum suntik secara bergan­tian dan transfusi darah. Kemu­dian dr. Leo menerangkan tentang penyakit alat reproduksi. Disebut­kan juga penyakit kelamin sipilis bisa diderita akibat hubungan seks yang tidak sehat. Penyakit ini bisa membuat seseorang sulit mendapatkan keturunan.Lebih lanjut, dr. Leo menga­takan cara mengatasinya dengan menjaga kebersihan genetelia, kemudian jangan melakukan hubungan seks bebas. Berikutnya deteksi dini kanker.Selebriti Ari Sihasale dan Nia Zulkarnaen tak ketinggalan berbagi pengetahuan seputar HIV/AIDS dan bahayanya kepada pelajar yang ada kemarin. </p>
<p align="justify">Dengan aksen Papua-nya yang kental, Pa Leo dalam Film Denias ini menitip pesan bila generasi muda mau membangun Papua maka harus menjaga kesehatan.Ari mengajak pelajar untuk tidak melakukan hubungan seks diluar nikah. Para pelajar diberi motivasi untuk terus berbuat sesuatu dan menghasilkan yang terbaik bagi Papua.Pada moment yang jarang dijumpai remaja Timika ini, sejumlah pelajar tak ketinggalan menyelipkan pertanyaan seputar pembuatan Film Denias yang salah satu lokasi syutingnya di Timika.&#8221;Film Denias itu kisah nyata. </p>
<p align="justify">Film itu menggambarkan sosok seorang Denias yang berasal dari Arwanof, yang rela berlari dan berjalan menyusuri untuk sekolah di Timika,&#8221; jelas Ari.Tak disangka, penjelasan singkat tersebut mampu mem­bangkitkan semangat pelajar untuk menggapai cita-cita mereka. Ari berpesan agar selalu menjaga kesehatan dan menjauhi pergaulan bebas.Koordinator KPA Kab. Mimika, Reynold Ubra disela-sela acara kepada Radar Timika menga­takan, sasaran seminar sehari tersebut adalah kelompok remaja. Hal itu sesuai tema peringatan Hari AIDS Sedunia secara nasional yang dicanangkan tahun ini, yaitu &#8220;Yang Muda yang Membuat Perubahan.&#8221;Kata Reynold kegiatan tersebut terselenggara atas kerjasama KPA, PTFI, Yappeda, YPAM (Yayasan Peduli Angkatan Muda), LP2EI Gracia, Lp2 Stevani, Kelom­pok Peer Educator (PE) dan kelom­pok dukung sebaya ODHA, yang terlibat membidik para remaja.Menurutnya yang terlibat pada kegiatan tersebut 17 sekolah dengan perincian 6 SMA/SMK sisanya SMP. &#8220;Karena sekolah lagi ujian semester, jadi banyak siswa yang tidak ikut (seminar pada Hari AIDS, red),&#8221; ujarnya. Reynold menambahkan sekarang 80 persen (dari 1.745 kasus) HIV/AIDS tertular pada usia produktif.</p>
<p align="justify">Acara tersebut juga dirangkai dengan tebak kuis yang digelar PTFI melalui Departemen PHDC kepada masyarakat yang berada di seputaran Pasar Swadaya, Timika.Dalam sesi tanya jawab yang dilakukan tim PHDC bekerja sama dengan PT. Indosat kemarin sore, sebagian warga tidak mengetahui bahkan ada yang belum pernah mendengar HIV/AIDS. Namun sebagian besar warga mengatakan tahu HIV/AIDS, penyebab penularannya serta dampak apabila tertular. </p>
<p><b>PTFI Peduli HIV/AIDS</b></p>
<p align="justify">Sementara itu, Juru Bicara PTFI, Mindo Pangaribuan dalam release-nya kepada Radar Timika kemarin mengatakan bahwa PTFI menggelar dan mendukung sejumlah kegiatan dalam rangka peringatan Hari Aids Sedunia kemarin.Antara lain menggelar dialog tentang upaya bersama memerangi HIV/AIDS di Jayapura dengan pembicara Ketua Komisi Penanggulangan AIDS Daerah Papua Constant Karma, Senat Mahasiswa Uncen dan Senat Mahasiswa Institut Teknologi. </p>
<p align="justify">Acara tersebut dipandu oleh Radio Art FM.Di Jakarta, pada 30 November 2008, PTFI berpartisipasi menye­lenggarakan gerak jalan sehat yang diikuti 12 ribu peserta. Peserta menyusuri jalan dimulai dari Gelora Bung Karno Senayan, melalui Jalan Jenderal Sudirman dan kembali ke Gelora Bung Karno Senayan. Acara tersebut dihadiri Menteri Kesejahteraan Rakyat Aburizal Bakrie, Menteri Pemuda dan Olah Raga Adyaksa Daut, para pemimpin perusahaan, termasuk perusahaan-perusahaan anggota Koalisasi Bisnis untuk AIDS (Indonesian Business Coalition on AIDS/IBCA) dimana PTFI adalah satu dari tujuh pendiri IBCA.Di Timika, PTFI mendukung peringatan Hari AIDS Sedunia yang ditandai dengan kampanye bahaya HIV/AIDS. Kampanye bahaya AIDS itu diselenggarakan Lembaga Peduli Perempuan E-­Gracia bekerjasama dengan KPA. Ratusan pelajar dari berbagai SMP dan SMA di kota Timika hadir di acara tersebut.</p>
<p align="justify">Selain itu, di aula SMA Advent Timika juga diselenggarakan kampanye serupa yang diikuti pelajar di Timika. Acara tersebut diselenggarakan oleh Departemen Public Health and Disease Control PTFI dan KPA Kabupaten Mimika.&#8221;Dukungan PT Freeport Indo­nesia dalam kampanye tentang bahaya HIV/AIDS adalah bagian dari program perusahaan dalam rangka terus memerangi HIV/AIDS,&#8221; kata Mindo Pangaribuan.Program-program PT Freeport Indonesia dalam memerangi HIV/AIDS telah mendapatkan penga­kuan internasional. Baru-baru ini PT Freeport Indonesia menerima penghargaan Millenium Develop­ments Goals 2008 yang merupa­kan kerjasama antara Perserikatan Bangsa-Bangsa dan Metro TV. Penghargaan yang diterima PTFI itu untuk kategori Memberantas HIV/ AIDS, Malaria, Tukerkulosis dan Penyakit menular lainnya. (lrk/qq)/Radar Timika </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://relawanaidsmimika.com/2009/06/30/ari-sihasale-dan-nia-zulkarnaen-peduli-hivaids-di-timika/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

